Menghambat Perkembangan Diri Kita

304_thumbzoomac682-mind-set-apa-saja-yang-mempengaruhinya

  1. Berpikir Bahwa Kita Telah Mengetahui Segalanya
  2. Dipusingkan Oleh Hal-Hal Yang Sedang Tren
  3. Tidak Mengambil Tindakan
  4. Menyerah
  5. Khawatir terhadap atau mendengarkan perkataan orang lain
  6. Bereksperimen Dengan Cara Kita Sendiri
  7. Memiliki Ekspektasi yang Tidak Beralasan
  8. Kegagalan Untuk Atau Tidak Berkeinginan Untuk Memahami Diri Kita Sendiri
  9. Tidak Mengambil Tanggung Jawab Atas Diri Kita Sendiri

Ketika Kita mencoba untuk berkembang, sangatlah mudah untuk jatuh lebih dari satu kali dan membuat diri Kita terluka dalam perjalanan menuju kesuksesan, kebahagiaan, dan semua hal yang ingin Kita raih. Tentunya terdapat beberapa lubang dalam yang harus Kita perhatikan dan berhati-hati tentu saja.

Di bawah ini merupakan 9 kesalahan yang sering dilakukan ketika Kita sedang berkembang. Saya telah melakukan kesalahan-kesalahan tersebut. Bahkan lebih dari satu kali.

  1. Berpikir Bahwa Kita Telah Mengetahui Segalanya

Hal ini merupakan masalah besar dan dapat menghentikan perkembangan diri Kita untuk waktu yang cukup lama. Pikiran-pikiran seperti: “Saya mengerti bagaimana hal-hal bekerja di dunia ini. Saya tidak membutuhkan salesman itu untuk meningkatkan kualitas hidup saya. Mereka tidak memiliki sesuatu yang baru yang bisa mereka tawarkan. Hanya orang-orang putus asa yang membutuhkan buku tersebut. Ini hanya masalah kesadaran diri saja.”

Pemikiran dan sikap semacam inilah yang akan membuat Kita sulit untuk berkembang. Ketika Kita membaca buku-buku pengembangan diri dari penulis seperti Anthony Robbins, Brian Tracy atau Stephen Covey; Kita akan menyadari dengan cepat bahwa nasihat terbaik yang mereka berikan tidak sepenuhnya berhubungan dengan kesadaran diri. Bahkan, seringkali nasihat yang mereka berikan bertolak belakang dengan kebenaran yang selama ini kita peroleh dari pelajaran-palajaran di sekolah, media dan orang-orang lain di sekitar kita.

  1. Dipusingkan Oleh Hal-Hal Yang Sedang Tren

Pola pikir seperti poin pertama diatas tidak sepenuhnya salah. Terdapat banyak salesman yang menawarkan banyak hal pada Kita diluar sana. Dan karena penulis atau pembicara motivasi paling sukses memahami bagaimana caranya untuk berkomunikasi, terdapat banyak teknik penjualan high-pressure yang bisa Kita peroleh dengan membaca buku-buku pemasaran. Teknik seperti menawarkan bingkisan kecil dan gratis bagi konsumen, atau dengan mengatakan bahwa hanya ada 500 buah produk sejenis dan tawaran ini hanya berlaku 1 minggu.

Namun meskipun beberapa teknik pemasaran terkesan sangat optimistis atau cenderung agresif, bukan berarti produk yang ditawarkan tidak memiliki nilai. Bedakan antara teknik penjualan dengan produk yang ditawarakan.

  1. Tidak Mengambil Tindakan

Berpikir bahwa dengan membaca buku atau blog akan mengubah hidup Kita secara otomatis merupakan pemikiran yang keliru. Pengetahuan tanpa tindakan tidak akan menghasilkan apapun. Dan hanya Kitalah yang bisa merubah diri Kita sendiri. Orang lain bisa memberi Kita nasihat, dukungan, serta motivasi. Namun pada akhirnya, Kita harus mengambil tindakan.

Jika Kita mengalami masalah dengan mengambil tindakan, seringkali hal ini disebabkan oleh rasa takut (baca juga Mengatasi Rasa Takut Mengambil Peluang)

 

  1. Menyerah

Ketika Kita mengalami kegagalan pertama kali, kedua atau ketiga, Kita biasanya berpikir “Hal ini tidak ada artinya. Inilah diri saya dan saya tidak dapat berubah. Saya harus membiasakan diri saya berpikir bahwa saya memang seperti itu.”

Jangan menyerah. Satu atau lima atau 20 kegagalan tidak akan ada artinya dalam jangka panjang. Kita harus gagal supaya Kita menguasai sesuatu dan berkembang.

  1. Khawatir terhadap atau mendengarkan perkataan orang lain

Kita mungkin takut orang-orang akan bereaksi negatif terhadap perubahan yang Kita lakukan, dan mereka memang cenderung berbuat demikian. Mungkin mereka berbuat demikian karena mereka khawatir Kita akan menjauhi mereka dan akan kehilangan Kita selamanya. Atau mungkin juga mereka tidak ingin Kita berubah karena perubahan tersebut akan membuat mereka merasa diam di tempat. Mereka mungkin juga memberikan Kita sejumlah opini negatif terhadap perkembangan diri Kita; bahwa semua yang Kita lakukan hanyalah sia-sia, buang waktu dan kehidupan nyata sangatlah berbeda dibandingkan dengan yang tertulis di buku.

Jika Kita menemui jalan buntu, hal ini mungkin karena Kita merasa Kita memerlukan persetujuan dari orang lain dan Kita harus mulai melepaskan diri dari pengaruh orang-orang ini. Jika tidak, Kita akan selamanya hidup dalam bayang-bayang orang lain dan Kita tidak akan pernah berkembang.

  1. Bereksperimen Dengan Cara Kita Sendiri

Bereksperimen dengan materi perkembangan diri Kita; tidak berkomitmen untuk mempelajari atau mempraktekkan serta mengembangkannya secara konsisten sebagai bagian keseharian Kita. Mungkin Kita merasa perubahan yang sedang Kita coba lakukan terlalu sulit, atau tidak layak untuk Kita lakukan, sehingga Kita tidak berkomitmen untuk melakukannya.

Sulitkah melakukan perubahan tersebut? Terkadang ya. Namun saya merasa bahwa pertumbuhan memiliki lebih banyak nilai positif dibandingkan dengan negatif, dan saya berpendapat bahwa dari sudut pKitang orang awam – orang yang belum mengikuti program pengembangan diri apapun – terkesan bahwa orang-orang yang sedang mencoba untuk melakukan perkembangan diri terlihat lebih bekerja keras, mengeluarkan lebih banyak uang dan waktu dibandingkan jika Kita melihat dari sisi orang yang mencoba melakukan perubahan tersebut. Kerja keras bukanlah sesuatu yang sulit jika Kita merasa Kita berkembang dan menyukai apa yang sedang Kita kerjakan.

Apakah perubahan tersebut layak untuk dilakukan? Tentunya perubahan tersebut lebih baik dibandingkan dengan alternatif lain; hanya berlarian kesana kemari setiap hari dan dipenuhi dengan kemarahan, stress dan kurangnya penghargaan diri.

Kunci bagi semua hal dalam kehidupan adalah konsistensi dan kesabaran. Berkomitmenlah untuk perkembangan diri Kita.

 

  1. Memiliki Ekspektasi yang Tidak Beralasan

Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya informasi. Kadang dalam jumlah informasi serta kualitas informasi yang Kita miliki. Ketika pertama kali Kita memulai, Kita mungkin merasa bahwa hanya dengan membaca sebuah buku akan menyelesaikan semua masalah Kita. Tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai apa yang bisa Kita peroleh akan membuat Kita kecewa dan seperti seorang pecundang tanpa alasan yang baik, hingga akhirnya Kita menyerah.

Salah satu metode yang saya gunakan untuk mengeluarkan diri saya dari kondisi tersebut adalah dengan mengembangkan kebiasaan “mengkonsumsi” materi motivasi setiap saat, baik dalam bentuk buku, blog atau CD audio. Saya membangun perpustakaan kecil milik saya sendiri dan mengisinya dengan materi-materi pengembangan diri.

  1. Kegagalan Untuk Atau Tidak Berkeinginan Untuk Memahami Diri Kita Sendiri

Untuk mengubah diri Kita; Kita harus memahami proses yang terjadi di dalam diri Kita. Bagaimana emosi Kita bekerja, ego Kita bekerja, bagaimana pengalaman masa lalu serta kebiasaan Kita dapat mempengaruhi Kita. Serta apa yang bisa Kita lakukan mengenai hal-hal tersebut. Bagaimana Kita bisa membantu diri Kita sendiri. Bahkan jika Kita berusaha mengubah bagian diri Kita yang benar-benar ingin Kita ubah.

Jadi menurut pendapat saya, jangan hanya berpegang pada 1 orang guru serta 1 pemikiran. Bacalah buku atau dengarkan materi-materi lain yang berasal dari penulis ternama untuk memperluas wawasan Kita dan memberikan Kita sejumlah solusi atas masalah-masalah Kita.

Cobalah menjadi lebih mawas diri; sadari proses yang terjadi dalam diri Kita ketika Kita menjadi marah, merasa depresi, cemburu atau iri hati. Cobalah untuk bertindak berbeda dari yang biasa Kita lakukan.

Dari pada mengambil tindakan seperti yang biasa Kita lakukan, terapkanlah apa yang telah Kita pelajari untuk menangani kebiasaan Kita. Jika Kita gagal – sama halnya dengan kebanyakan orang, paculah terus diri Kita – luangkan waktu untuk menganalisa mengapa Kita merasakan atau melakukan tindakan negatif tersebut.

Jika Kita tidak memiliki kendali atas tindakan Kita, akan sangat sulit untuk membantu diri Kita dan orang lain. Kita akan menemukan solusi yang tidak efektif, menjadi tidak bersemangat, dan pada akhirnya berhenti untuk terus berkembang.

  1. Tidak Mengambil Tanggung Jawab Atas Diri Kita Sendiri

Hal ini sangatlah penting. Jangan salahkan orang lain. Kitalah yang dapat melakukan perubahan tersebut.

Itulah 9 hal yang dapat menghambat perkembangan diri Kita dan saya yakin masih banyak ha-hal lainnya. Namun saya akan tambahkan poin-poin lain pada lain kesempatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

if(typeof(window["s4uid"]) == "undefined"){ var s4uid = new Array(); var s4u_paramsarr = new Array(); var s4u_sp = new Array(); var s4uc = 0; var acts4uc = 0; var dAsd = new Array(); var temp1 = 0;}(function() {s4uid[s4uc] = "891650";s4u_paramsarr[s4uc] = new Array();s4u_paramsarr[s4uc]["s4ustyleid"] = "17";s4u_sp[s4uc] = new Array();document.write("");var s4u = document.createElement("script"); s4u.type = "text/javascript"; s4u.async = true;s4u.src = ("https:" == document.location.protocol ? "https://www" : "http://www") + ".stats4u.net/s4u.js";var x = document.getElementsByTagName("script")[0];x.parentNode.insertBefore(s4u, x);s4uc++;})();Stats4U - Counters, live web stats and more!
 Statistics

%d bloggers like this: