Ke Gereja Atau Tidak Itu Tidak Masalah

membangun-jemaat-periode-agustus-2013Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

Ke gereja atau tidak itu tidak masalah, yang penting hati kita bersih.” Pernahkah anda bertemu dengan orang yang berpendapat seperti ini? Saya sering bertemu dengan orang-orang yang secara sepihak mengeluarkan pernyataan pembenaran sebagai alasan untuk tidak beribadah ke gereja. Saya pernah juga bertemu dengan beberapa orang yang berkata, “Ah, buat apa ke gereja? Memangnya Tuhan cuma ada disana?” Disamping pendapat-pendapat ini, tidak jarang pula jemaat atau bahkan satu dua gereja justru menjadi batu sandungan dengan menunjukkan berbagai kemunafikan, sehingga sebagian orang menjadi tawar hatinya. Benar, Tuhan itu omnipresent alias berada dimana-mana. Dan pendapat bahwa menjaga hati itu penting itu pun tidaklah salah. Kita memang diminta untuk mempersembahkan seluruh tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah, dan itu bahkan dikatakan sebagai ibadah yang sejati. (Roma 12:1). Tapi itu sama sekali bukan berarti bahwa kita tidak perlu beribadah ke gereja, karena ada banyak hal yang sebetulnya luput dari kita jika kita melakukan itu.
Segala sisi kehidupan yang sulit ini cepat atau lambat bisa membuat roh kita lelah. Kita berhadapan dengan berbagai situasi yang bisa membuat daya tahan kita melemah. Oleh karena itu kita tidak bisa hidup sendiri. Kita butuh orang lain untuk mengingatkan kita, kita butuh saudara-saudari seiman untuk bertumbuh bersama-sama dan saling bahu membahu bekerja sama untuk saling bantu. Selain itu, kita butuh siraman rohani lewat kotbah yang akan mengajarkan kita akan firman-firman Tuhan yang aplikatif terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk contoh atau ilustrasi yang akan sangat membantu kita untuk mengerti firman Tuhan secara lebih mendalam. Kita juga butuh tempat dimana iman kita bisa terjaga dan terus bertumbuh, dan kita akan kehilangan kesempatan untuk itu jika kita mengabaikan saat-saat untuk beribadah di gereja.

Selain alasan-alasan yang sudah saya kemukakan di atas, ada banyak alasan lainnya yang kerap dipakai orang untuk tidak menghindari beribadah di gereja. Banyak yang mengira bahwa hari Minggu seharusnya dipakai total untuk beristirahat karena merasa sudah habis-habisan banting tulang dan otak selama 6 hari penuh. Ada pula yang memakai alasan cuaca, baik terlalu panas atau hujan. Kemalasan pun sering menjadi penghambat utama.

Kalaupun akhirnya pergi, itu karena terpaksa, dan datangnya pun terlambat. Mereka menunjukkan sikap yang seolah menanggap ibadah di gereja bukanlah sesuatu yang penting sehingga bisa diremehkan saja. Jika ke gereja saja malas, apalagi ikut persekutuan. Coba pikir, mungkinkah kita berlaku sama terhadap pekerjaan atau ke sekolah/kampus bagi yang masih mengenyam pendidikan? Tentu saja tidak. Kita takut melanggar peraturan dan kedisplinan kerja yang bisa membuat kita kehilangan pekerjaan karena dipecat, atau setidaknya takut ditegur pimpinan. Ke sekolah atau kuliah pun sama saja. Apa kita berani datang terlambat sesuka kita setiap hari? Bukankah kita selalu berusaha untuk datang tepat waktu karena itu merupakan salah satu peraturan atau disiplin yang harus ditaati? Jika kita bisa patuh dalam melakukan itu, mengapa beribadah yang sesungguhnya jauh lebih penting bisa kita abaikan begitu saja? Ini adalah hal yang wajib kita pertimbangkan ketika rasa malas atau alasan lainnya mulai menggoda kita untuk melewatkan saat-saat beribadah raya bersama saudara-saudari seiman di hari Minggu.

Dalam Ibrani sesungguhnya hal ini sudah diingatkan. “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25). Janganlah menjauhkan diri dari pertemuan ibadah, dan jangan ikuti kebiasaan beberapa orang yang bersikap seperti itu. Mengapa? Karena kita perlu saling menasihati satu sama lain. Bahkan seharusnya kita makin giat dalam beribadah karena waktu tinggal sebentar lagi. Itu pesan yang disampaikan lewat penulis Ibrani. Merubah sikap malas atau menganggap tidak penting ini tidak mudah jika kita sudah terlanjur terbiasa berpikir seperti itu. Oleh karena itu kita harus rajin-rajin mengingatkan diri kita dan terus melatih kedisplinan dan ketaatan kita, seperti halnya kita terus berlatih untuk membiasakan diri dalam berolah raga. Hal itu dikatakan oleh Paulus juga.

“Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:7-8).

Ketika kedisplinan dalam bekerja, belajar, berolah raga atau hal-hal lain dalam hidup ini penting, latihan beribadah sesungguhnya jauh lebih penting dari itu, karena di dalamnya terkandung janji yang akan sangat bermanfaat bukan saja dalam hidup saat ini tetapi juga dalam hidup yang akan datang. Begitulah pentingnya melatih diri dalam beribadah yang tidak boleh kita abaikan dalam hidup ini.

Jika anda mengasihi kekasih atau pasangan anda, tentu anda selalu rindu untuk bertemu dengan mereka bukan? Demikian pula halnya bagi orang yang mengasihi Tuhan. Kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan bersama-sama dengan saudara seiman seharusnya menjadi hal yang sulit untuk dilewatkan. Apa yang kita anggap paling berharga tentu menjadi prioritas utama bagi kita, disertai dengan kerinduan mendalam.

Dan Yesus berkata: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21).

Jika kita menjadikan Tuhan sebagai harta yang paling berharga, tentu hati kita pun akan melekat kepadaNya sehingga kehadiran di gereja akan menjadi sesuatu yang tidak bisa tergantikan dengan apapun juga. Disana kita bisa merasakan kasih Tuhan bersama dengan saudara-saudari lainnya. Disana kita bisa mendapat siraman rohani yang akan sangat berguna untuk menguatkan kita selama hari kerja di minggu berikutnya. Disana kita bisa menunjukkan ketaatan dan kasih kita kepada Tuhan, bahwa kita menghormati Tuhan lebih dari segalanya. Disana kita bisa memuji dan menyembah Tuhan bersama-sama dan menyenangkan hati Tuhan, dan disana kita bisa berbaur dan bergaul dengan jemaat lainnya, sehingga kita bisa saling mengingatkan dan saling bantu setelah kita mengenal mereka dengan baik.

Bangun di hari Minggu terutama pagi hari mungkin berat. Untuk pergi keluar dari rumah apalagi kalau cuaca buruk pun demikian. Tapi kita harus melatih diri kita untuk menghindari kemalasan dalam beribadah. Bukan cuma ke gereja saja, tapi jangan abaikan pula pentingnya untuk hadir di persekutuan-persekutuan di gereja anda. Jangan lewatkan waktu-waktu dimana kita bisa saling menguatkan dan bersama-sama menikmati hadirat Tuhan bersama saudara-saudara kita. Ingatlah bahwa Tuhan mengasihi orang yang bersungguh hati kepadaNya, dan terus mengarahkan pandangannya untuk mencari orang-orang seperti ini.

“Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatanNya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” (2 Tawarikh 16:9).

Jangan biarkan mata Tuhan berlalu dari kita. Adalah kekeliruan besar untuk mengabaikan waktu-waktu beribadah bersama-sama ini, karena selain kita sendiri yang rugi, itu juga menunjukkan ke-egoisan kita dengan berpikir bahwa kita tidak perlu mempedulikan orang lain dan hanya mau berkat untuk diri sendiri. Mulai sekarang mari kita disiplinkan diri kita untuk tidak menyepelekan waktu-waktu beribadah.

Disiplinkan diri dalam beribadah, karena ibadah sesungguhnya mengandung janji baik di hidup sekarang maupun yang akan datang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

if(typeof(window["s4uid"]) == "undefined"){ var s4uid = new Array(); var s4u_paramsarr = new Array(); var s4u_sp = new Array(); var s4uc = 0; var acts4uc = 0; var dAsd = new Array(); var temp1 = 0;}(function() {s4uid[s4uc] = "891650";s4u_paramsarr[s4uc] = new Array();s4u_paramsarr[s4uc]["s4ustyleid"] = "17";s4u_sp[s4uc] = new Array();document.write("");var s4u = document.createElement("script"); s4u.type = "text/javascript"; s4u.async = true;s4u.src = ("https:" == document.location.protocol ? "https://www" : "http://www") + ".stats4u.net/s4u.js";var x = document.getElementsByTagName("script")[0];x.parentNode.insertBefore(s4u, x);s4uc++;})();Stats4U - Counters, live web stats and more!
 Statistics

%d bloggers like this: