Kewajiban Bersama Suami-Isteri

Keluarga merupakan lembaga yang Allah dirikan. Di dalamnya terdapat hak dan kewajiban yang dimiliki oleh suami istri. Semuanya itu diatur oleh Allah sedemikian rupa sehingga salah satu pihak tidak merasa lebih unggul dari pihak lainnya. Allah mengasihi kita dan pasangan kita. Tidak ada yang menjadi “anak emas”.

Kewajiban Suami Isteri
Karena itu, ada kewajiban bersama yang harus dilakukan oleh suami istri secara bersamaan agar keduanya menyadari bahwa mereka saling membutuhkan. Kekurangan pasangan kita diisi oleh kelebihan kita dan kekurangan kita diisi oleh kelebihan pasangan kita. Dengan demikian terjadi keseimbangan dalam menjalani kehidupan berkeluarga ini.

 

 

 

Kewajiban bersama yang dimaksud adalah sebagai berikut :

Saling mengasihi.

Suami dan istri dipanggil untuk saling mengasihi. Ayat-ayat Alkitab berikut ini : “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” (Efesus 5:25). “Dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya…” (Titus 2:4), menyatakan tanggung jawab dari sikap saling ketaatan. Yaitu tiap pihak secara sukarela mengasihi dan mau taat terhadap yang lain. Ketaatan yang bersifat timbal balik ini memberikan kepada suatu keluarga dasar yang kuat.

Saling merendahkan diri

Saling merendahkan diri di dalam Kristus adalah suatu prinsip rohani yang umum. Alkitab menegaskan pada suami istri agar “ … rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” (Efesus 5 :21). Prinsip ini harus diterapkan pertama-tama dalam keluarga Kristen. Ketundukan, kerendahan hati, kelembutan, kesabaran, dan toleransi harus merupakan ciri khas dari setiap anggota keluarga Kristen. Istri harus tunduk (yaitu, tunduk di dalam kasih) kepada tanggung jawab suaminya selaku pemimpin dalam keluarga. Suami harus tunduk kepada kebutuhan istrinya dengan sikap kasih dan pengorbanan diri.

Jika setiap pasangan suami isteri Kristen memberlakukan prinsip ini dalam rumah tangganya, dapat dipastikan bahwa tidak ada suami yang menindas isteri dan tidak ada isteri yang tidak tunduk dan tidak hormat kepada suami, karena mereka saling memperlakukan dengan penuh kasih sayang dan hormat.

Saling memenuhi kewajiban

Dalam kekristenan, suami dan istri masing-masing mempunyai hak untuk mendapatkan kesetiaan yang penuh dari pasangannya. “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” (Ibrani 13:4) Beberapa kelompok masyarakat hanya mengharapkan kesetiaan pihak istri, namun sekitar Tuhan adalah kesetiaan oleh tiap pihak. Setiap pihak berkewajiban untuk memenuhi hak yang dimiliki pasangannya. Alkitab menegaskan hal ini dengan menyatakan bahwa “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya.” (1 Korintus 7:3).

Saling mempercayai.

Makna kata percaya berarti yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (dapat memenuhi harapan, jujur, bertanggung jawab, dan lain sebegainya.).

Dalam Amsal 31:11 ditegaskan bahwa terhadap istri yang cakap “Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.” Ini berarti bahwa sang suami yakin benar atas kemampuan istrinya dalam mengelola rumah tangga dan menjadi penolong yang sepadan baginya sehingga ia dapat menaruh kepercayaan kepadanya.

Demikian pula pada bagian lain dalam Alkitab, Efesus 5:22 “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, “ dan ditegaskan lebih lanjut dalam Efesus 5:24, bahwa ketundukan tersebut mencakup “dalam segala sesuatu.” Hal ini menunjukkan bahwa ada suatu keyakinan pada sang istri akan kemampuan suaminya untuk memenuhi harapan, bersikap jujur dan bertanggung jawab terhadap keluarganya, khususnya sang istri.


Kesimpulan
“ Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; “ (Mazmur 127:1). Ayat ini mengingatkan kita bahwa keluarga adalah milik Allah. Ia menciptakannya. Ia menentukan susunan intinya. Ia menentukan maksud dan tujuannya. Rumah tangga yang kita bangun selama ini tetap menjadi hasil karya-Nya. (Christenson, 1994:8).

Back_to_ChurchKarena itu pemahaman akan fungsi, tugas dan tanggung jawab, hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam keluarga perlu diselaraskan dengan Firman Tuhan. Tanpa itu, mustahil sebuah keluarga dapat berkenan di hadapan Allah, memuliakan nama-Nya dan mencapai tujuan Allah serta menjadi bagian dari tujuan itu. Perlu tekad yang sungguh-sungguh untuk melaksanakan kehendak-Nya dalam kehidupan keluarga kita.

Pemberian otoritas oleh Kristus pada suami untuk memimpin keluarga merupakan suatu kepercayaan yang perlu dipertanggung-jawabkan kelak dihadapan-Nya. Bukan untuk menjadi diktator , tetapi menjadi teladan yang utama bagi seluruh anggota keluarganya. Menjadi teladan dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan dan dalam kemurnian. (1Timotius 4:12).

Menjadi kepala keluarga mempunyai fungsi gkita : sebagai suami terhadap istrinya dan sebagai ayah terhadap anak-anaknya. Kedua fungsi ini memerlukan pemahaman tersendiri, bukan sesuatu yang dapat dilakukan sambil lalu. Di dalamnya terdapat tugas dan tanggung jawab yang telah Allah tetapkan. Kegagalan melakukan fungsi ini sesuai dengan tuntunan Firman Tuhan dapat berakibat hancurnya sebuah keluarga. Kepala keluargalah yang harus mempertanggung-jawabkan maju mundurnya sebuah keluarga yang dipimpinnya di hadapan Kristus kelak.

Jadilah kita suami yang bertanggung jawab, mengasihi Allah dan istri serta menjadi ayah yang baik bagi anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita. Ingatlah bahwa hidup kita sekarang di dalam Kristus adalah sebagai ciptaan baru yang tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk kita. Tuhan Yesus mengasihi keluarga Kita.

Penutup

Tidak ada suami yang sempurna. Tidak ada kepala keluarga yang siap 100% untuk menjadi kepala keluarga yang sempurna. Berbagai keterbatasan dan kekurangan – baik secara fisik ,mental dan pikiran – yang ada dalam diri seorang suami membuatnya sadar bahwa dia memerlukan seorang penolong dan Allah telah merespon hal ini dengan memberinya seorang istri. Seseorang yang di mata Allah dapat menjadi penolong yang sepadan bagi suami.

Ketidaksempurnaan sebagai seorang suami tidak perlu membuatnya berputus asa, tetapi seharusnya mendorong dia untuk terus belajar memahami dan mempraktekkan kebenaran Firman Tuhan dalam kehidupannya. Perubahan demi perubahan akan dialami bila secara konsisten taat pada Firman Tuhan. Keadaan yang lebih baik sudah ada di depan mata selama suami mengkitalkan Tuhan Yesus, bukan kemampuan dan kekuatan di-rinya.

Berbagai kesalahan di masa lalu dalam memimpin keluarga janganlah menjadi beban berat yang memperlambat langkah kaki kita dalam perjalanan menuju ke masa depan. “Tetapi kalau kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah, Ia akan menepati janji-Nya dan melakukan apa yang adil. Ia akan mengampuni dosa-dosa kita dan membersihkan kita dari segala perbuatan kita yang salah.” (1Yohanes 1:9, BIS). Nasihat Paulus penting untuk kita perhatikan agar kita mendapat semangat baru menyongsong masa depan : “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13,14).

Panggilan surgawi kita dalam pernikahan Kristen adalah menjadi seorang suami yang memenuhi kehendak Allah. Karena itu pembaharuan dan pemulihan dalam keluarga kita merupakan suatu kebutuhan yang mendesak, terutama dalam diri kita sebagai seorang kepala keluarga. Berlarilah kepada tujuan untuk memperoleh hadiah sorgawi yaitu sukacita dan berkat-berkat. “Bertumbuhlah bersama dalam kasih karunia”. Amin.

(Sanjeev Kumar Sharma 21/08/2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

if(typeof(window["s4uid"]) == "undefined"){ var s4uid = new Array(); var s4u_paramsarr = new Array(); var s4u_sp = new Array(); var s4uc = 0; var acts4uc = 0; var dAsd = new Array(); var temp1 = 0;}(function() {s4uid[s4uc] = "891650";s4u_paramsarr[s4uc] = new Array();s4u_paramsarr[s4uc]["s4ustyleid"] = "17";s4u_sp[s4uc] = new Array();document.write("");var s4u = document.createElement("script"); s4u.type = "text/javascript"; s4u.async = true;s4u.src = ("https:" == document.location.protocol ? "https://www" : "http://www") + ".stats4u.net/s4u.js";var x = document.getElementsByTagName("script")[0];x.parentNode.insertBefore(s4u, x);s4uc++;})();Stats4U - Counters, live web stats and more!
 Statistics

%d bloggers like this: