Menguasai Diri

marahApakah seorang yang tidak mampu menguasai diri dapat menjadi pengayom masyarakat? Kemungkinannya sangat kecil, bahkan hampir mustahil. Menguasai diri berkaitan dengan upaya menahan keinginan dan hawa nafsu angkara murka. Kata orang,vmenguasai diri lebih sukar daripada menjinakkan binatang dan buas. Orang yang menguasai diri mengetahui batas kemampuan dan kelemahan lawan, sehingga bertindak pada waktu yang tepat. Sebaliknya, tidak mampu menguasai diri akan membuat emosi meledak lewat kata-kata dan tindakan yang tak terkendali. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal istilah “Besar pasak daripada tiang!” Peribahasa tersebut digunakan untuk menunjuk orang yang tidak mampu menguasai diri di bidang ekonomi. Bila seseorang tidak mampu mengekang nafsu membelanjakan sehingga pengeluarannya lebih besar daripada pendapatan maka kondisi keuangannya disebut besar pasak daripada tiang.

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32).

Pada masa yang sulit dan serba tidak pasti ini, banyak orang sabar menanti karya Tuhan, sehingga mencari pertolongan, entah kepada kuasa gaib, kuasa uang, kekuatan fisik, kuasa tahta atau pikiran manusia yang terlepas dari hikmat Allah. Yakun tidak sabar menanti pertolongan Tuhan untuk memperoleh berkat Ishak, sehingga dengan tipu muslihatnya mengelabui Esau, memperoleh berkat dari Ishak. Akibatnya, terjadi perpisahan antara orang tua dan anak, serta putusnya ikatan persaudaraan yang berlanjut dengan permusuhan.

       Sebagian anggota masyarakat Indonesia pada dewasa ini tak mampu menguasai diri, sehingga dengan gampang terprovokasi oleh isu murahan. Upaya memulihkan keadaan dari keterpurukan yang terjadi akibat salah urus pada masal lalu dihadapi dengan sukap kurang sabar. Tindakan main hakim sendiri berupa membantai tersangka pencuri yang tertangkap basah adalah wujud kekurang sabaran menanti proses hukum yang seharusnya ditempuh. Kendati menindak kejahatan itu pada dasarnya baik dan mulia, namun tindakan main hakim sendiri menunjukkan ketidakmampuan mengendalikan diri. Dengan demikian tindakan itu telah melecehkan wibawa hukum, aparat keamanan dan lembaga keadilan. Kenyataan ini harus cepat diatasi, jika tidak maka bukan mustahil pada suatu saat nanti, para anggota keluarga korban yang tak mampu menguasai diri akan mengadakan perhitungan dengan melampiaskan dendam pembalasan mereka.

Orang yang tak mampu menguasai diri dalam masalah ambisi akan menggunakan cara-cara licik menyingkirkan para pesaingnya supaya dapat merebut jabatan dan bertindak sebagai penguasa. Para pemimpin bangsa yang tidak sabar, tetapi menggunakan pelbagai cara, tak terkecuali cara yang salah untuk memperkuat posisinya, akan berakibat buruk. Dalam sejarah nasional kita mengenal seorang tokoh bernama Ken Arok yang tidak sabar menunggu waktu sampai dirinya dapat naik tahta secara wajar. Maka ia menggunakan cara licik untuk merebut tahta Tunggul Ametung. Dapatkah Ken Arok disebut sebagai pahlawan? Dari tindak-tanduknya yang keji, ia sama sekali tidak layak disebut sebagai pahlawan! Sebutan apakah yang paling tepat untuk diberikan kepadanya? Agaknya, Ken Arok lebih pantas disebut sebagai “pengkhianat”. Oleh karena itu, selaku umat beriman kita tidak boleh mencontoh perilakunya. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk sabar dan menguasai diri dalam setiap keadaan. Rasul Paulus dalam Galatia 5:22 menyebutkan bahwa penguasaan diri merupakan salah satu dari buah karya Roh Kudus dalam kehidupan umat beriman.

Kesabaran dan penguasaan diri adalah cara yang paling tepat untuk menanti pemulihan dan perbaikan dari kondisi krisis yang terjadi di Indonesia. Bila kita sabar dan mampu menguasai diri, niscaya kita tidak akan menggunakan cara-cara kekerasan dalam langkah mewujudkan hal-hal yang baik bagi negeri kita. Untuk keperluan itu, kita sebagai umat beriman hendaknya tekun mendoakan para pemimpin kita dalam upaya memikul tanggung jawab demi kesejahteraan bangsa kita.

Para pemimpin bangsa dan seluruh rakyat Indonesia membutuhkan kesabaran dalam proses perbaikan di bidang ekonomi, sosial, dan politik. Bila tidak, maka situasi akan tambah parah. Dalam hal ini kita semua perlu memperhatikan hikmat Salomo dan belajar untuk menerapkannya pada setiap aspek kehidupan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

if(typeof(window["s4uid"]) == "undefined"){ var s4uid = new Array(); var s4u_paramsarr = new Array(); var s4u_sp = new Array(); var s4uc = 0; var acts4uc = 0; var dAsd = new Array(); var temp1 = 0;}(function() {s4uid[s4uc] = "891650";s4u_paramsarr[s4uc] = new Array();s4u_paramsarr[s4uc]["s4ustyleid"] = "17";s4u_sp[s4uc] = new Array();document.write("");var s4u = document.createElement("script"); s4u.type = "text/javascript"; s4u.async = true;s4u.src = ("https:" == document.location.protocol ? "https://www" : "http://www") + ".stats4u.net/s4u.js";var x = document.getElementsByTagName("script")[0];x.parentNode.insertBefore(s4u, x);s4uc++;})();Stats4U - Counters, live web stats and more!
 Statistics

%d bloggers like this: