Membangun Kepercayaan

Ketika krisis kepercayaan melanda

Rumah tangga retak, perceraianpun tak bisa dihindari. Persahabatan dikhianati, karena persaingan, rasa iri dan sikap tidak mau kalah. Di dunia bisnis apalagi ? Berbagai praktek manipulasi, penipuan dan tindak kejahatan merajalela dimana-mana. Saat ini kepercayaan terhadap para pejabat, para tokoh bahkan pemuka agama pun sedang teruji. Siapa lagi yang dapat dipercayai ?

rodaKepercayaan menjadi semakin langka. Padahal semua orang menginginkan dan berusaha mendapatkannya, karena kepercayaan menjanjikan berbagai peluang. Jadilah banyak tindakan semu untuk membangun kepercayaan. Sikap artificial yang dibuat-buat. Hasilnya ? Hanya melelahkan dan itu tidak akan bertahan lama.

Sebuah kepercayaan tidak dapat dipaksakan

Dahulu pada zaman bapa leluhur, Abraham dikenal sebagai bapa orang beriman. Abraham percaya kepada Allah, Allah lalu memperhitungkannya sebagai kebenaran. Dalam hal ini Allah tidak memaksa Abraham untuk percaya kepadaNya, meskipun pada hakekatnya Ia adalah Allah yang mutlak untuk dipercayai. Karena kepercayaan tidak dapat dipaksakan, dalam kepercayaan tidak ada unsur tekanan, melainkan dimenangkan.

Teladan ini menunjukkan kepada kita, betapa pentingnya sebuah kepercayaan. Suatu hubungan yang kokoh dan harmonis dibangun dan dilandasi oleh sikap saling percaya. Kepercayaan merupakan kunci suatu relasi dan kemitraan, baik dalam bisnis, karier, persahabatan, keluarga bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kepercayaan dibangun oleh dua pihak

Mungkin ada toko yang namanya Toko Percaya Makmur atau Toko Saling Percaya, tapi percayalah tidak satupun yang menjual barang yang namanya “kepercayaan”. Karena kepercayaan tidak dapat diperjual belikan melainkan dibangun dan dipelihara dengan baik.

Suatu hubungan selalu melibatkan dua pihak, kepercayaan pun demikian. Sebuah pernikahan dibangun atas dasar komitmen saling percaya di antara suami dan istri. Persahabatan, kemitraan, network, kesepakatan bisnis, semua butuh kepercayaan dari masing-masing pihak. Ingatlah bahwa kepercayaan dibangun seumur hidup, namun bisa runtuh seketika. Jika kepercayaan luntur, maka hubungan pun menjadi hancur.

 5 Aspek dasar untuk membangun kepercayaan

Ada sebuah perumpamaan tentang dua orang yang hendak membangun rumahnya. Yang seorang membangun rumah di atas pasir yang mudah hanyut, yang lain mendirikan rumahnya di atas batu karang. Ketika hujan lebat turun, mudah ditebak rumah siapa yang akan rubuh ?

Saat ini banyak orang berusaha membangun kepercayaan dengan berbagai cara. Menawarkan berbagai janji, dengan teknik persuasi, penampilan atau performance yang meyakinkan. Sistem koneksi atau dengan cara-cara yang tidak sepatutnya seperti mencari muka, sikap asal bapa senang atau bahkan memanipulasi.

Namun sampai kapan ini dapat bertahan ? Karena semua akan teruji oleh waktu. Motivasi yang keliru dan janji yang muluk-muluk tidak akan sanggup bertahan lama. Ia seperti pasir yang segera hanyut ketika badai ujian tiba. Sedangkan rumah yang dibangun di atas batu-batu karang akan tetap kuat dan kokoh.

Ada lima dasar untuk membangun kepercayaan :

1. Integritas

Integritas pribadi merupakan jaminan terutama untuk dipercayai orang lain. Jika kita kehilangan integritas, maka kita pun sulit meraih kepercayaan dari orang lain. Kejujuran selalu lebih berharga daripada kemunafikan yang paling memikat sekalipun. Orang akan menaruh respek pada sebuah kejujuran. Dan kita akan merasa sangat lega dan langgeng jika diterima dan dipercayai sebagaimana adanya kita.

 2. Kebajikan

kebaikanKebajikan itu hakiki. Jika kita memiliki sumbernya, maka kebajikan takkan habis-habisnya. Seumpama benih yang hidup, jika ditanam ia akan menumbuhkan kepercayaan.

Kebajikan ditunjukkan melalui keteladanan hidup dan perbuatan baik. Tanpa kebajikan, siapa yang akan mempercayai kita ?

 3. Waktu

Pepatah mengatakan, waktu adalah penguji terbaik. Melewati kurun waktu, suatu hubungan akan semakin teruji. Kepercayaan dibangun seumur hidup, jadi pertahankanlah seumur hidup.

 4. Pertanggungjawaban

Banyak orang ingin dipercaya, namun merasa takut dengan pertanggungjawaban. Mengapa ? Karena mereka tidak menjadi diri sendiri apa adanya. Padahal integritas dan pertanggungjawaban bagaikan koin dengan dua sisi. Sekali kita berintegritas, otomatis kita pasti dapat memberi pertanggungjawaban.

 5. Bukti

Bukti adalah konfirmasi dari sebuah kepercayaan. Apakah kita dapat membuktikan kompetensi yang dimiliki ? Janji-janji yang ditepati ? Ucapan dan tindakan yang selaras ?

Konfirmasi yang positif akan membangun dan semakin memperkuat sebuah kepercayaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

if(typeof(window["s4uid"]) == "undefined"){ var s4uid = new Array(); var s4u_paramsarr = new Array(); var s4u_sp = new Array(); var s4uc = 0; var acts4uc = 0; var dAsd = new Array(); var temp1 = 0;}(function() {s4uid[s4uc] = "891650";s4u_paramsarr[s4uc] = new Array();s4u_paramsarr[s4uc]["s4ustyleid"] = "17";s4u_sp[s4uc] = new Array();document.write("");var s4u = document.createElement("script"); s4u.type = "text/javascript"; s4u.async = true;s4u.src = ("https:" == document.location.protocol ? "https://www" : "http://www") + ".stats4u.net/s4u.js";var x = document.getElementsByTagName("script")[0];x.parentNode.insertBefore(s4u, x);s4uc++;})();Stats4U - Counters, live web stats and more!
 Statistics

%d bloggers like this: