Hidup Dalam Kasih

award-kasih1-418x270Kita diciptakan untuk menjadi anggota keluarga Allah dan sebagai penerima kasihNya yang sempurna. Melalui pengorbanan AnakNya Yesus Kristus, Ia telah menunjukkan betapa besar kasihNya kepada kita. Saat kita menerima Kristus sebagai Juruselamat kita, kita menjadi anak-anakNya dan mengalami kasihNya yang tiada bersyarat. Kualitas dan kuantitas kasih Allah tetap. KasihNya tidak dapat berakhir atau bahkan binasa. Tidak ada satupun keadaan yang dapat membuat Tuhan berhenti mengasihi kita. Kita melihat kebenaran itu ditunjukkan dalam kehidupan 3 orang dalam Perjanjian Baru:

1. Ingatlah prajurit Romawi yang meminta Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Apakah permintaan prajurit itu diabaikan oleh karena ia tidak termasuk umat pilihan Allah – bangsa Yahudi? Tidak. Oleh karena Tuhan melihat iman sejati orang ini, maka Tuhan mengabulkan permintaannya oleh karena kasihNya kepadanya (Lukas 7:2-3, 9-10).

2. Yesus memberikan pengampunanNya yang penuh kasih kepada pencuri yang disalibkan yang mengakui kesalahannya dan menunjukkan imannya kepada Kristus (Lukas 23:40-43).

3. Sebelum pertobatannya, rasul Paulus yakin bahwa Yesus bukanlah Mesias yang dijanjikan dan para pengikutNya harus dihentikan. Untuk mewujudkannya, ia menganiaya orang Kristen Yahudi dan mengancam akan membunuh jemaat yang ada. Kasih Allah bahkan tidak melewatkan orang yang telah menentang anak-anakNya dengan kejam. Dalam perjalanan ke Damaskus, Tuhan menampakkan diri kepadanya dengan menawarkan keselamatan dan memberikan kepadanya suatu tugas besar untuk dilakukan, menginjili bangsa-bangsa non Yahudi (Kisah Rasul 9:15).
Pikiran manusia tidak dapat sepenuhnya memahami kasih Allah. Di dalam Kristus, pencuri, penganiaya dan mereka yang tampaknya adalah orang luar juga sama-sama dikasihi.

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”  Yohanes 13:34

Sebagai manusia kita adalah makhluk sosial, artinya kita diciptakan untuk hidup berpasangan dan berinteraksi dengan orang lain.  Dalam hal ini kasih diperlukan, sebab kasih itu di butuhkan oleh semua orang yang ada di dunia ini.  Tanpa kasih dunia ini akan dipenuhi oleh pergolakan, kacau-balau, bahkan diwarnai oleh pertumpahan darah, tetapi dengan kasih segala bentuk permusuhan dapat ditundukkan di bawah kaki Kristus.

     Bagaimana caranya hidup di dalam kasih?  

Pertama, saling berbagi.  Kita patut mencontoh kehidupan gereja mula-mula di mana mereka hidup rukun dan sungguh-sungguh mempraktekkan kasih.  Jemaat saling terikat oleh kasih yang sangat mendalam sehingga rela untuk berbagi.  Milik seseorang bukan lagi sebagai miliknya sendiri, tetapi milik bersama.  “…segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.”  (Kisah 2:44-45).

 Kedua, saling menolong.  Kita selalu membutuhkan orang lain untuk saling menolong, menopang dan melengkapi.  Karena kita tak pernah lepas dari situasi-situasi sulit, kesesakan, penderitaan, kerepotan, sakit-penyakit dan kelemahan-kelemahan lainnya, maka kita memerlukan pertolongan dari orang lain  “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”  (Galatia 6:2).  Rasul Paulus juga menambahkan,  “Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”  (Efesus 4:2b).
wpid-img_20140224_185627
Sudahkah kita menunjukkan kasih kita kepada orang lain dalam wujud nyata?  Ataukah kita diam saja dan sengaja menghindar ketika melihat orang lain sedang dalam kesusahan, karena takut direpotkan?  Belajarlah dari kisah seorang Samaria yang baik hati, di mana ia telah menunjukkan kasihnya kepada orang lain yang sedang dalam penderitaan.  “Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.”  (Lukas 10:34).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

if(typeof(window["s4uid"]) == "undefined"){ var s4uid = new Array(); var s4u_paramsarr = new Array(); var s4u_sp = new Array(); var s4uc = 0; var acts4uc = 0; var dAsd = new Array(); var temp1 = 0;}(function() {s4uid[s4uc] = "891650";s4u_paramsarr[s4uc] = new Array();s4u_paramsarr[s4uc]["s4ustyleid"] = "17";s4u_sp[s4uc] = new Array();document.write("");var s4u = document.createElement("script"); s4u.type = "text/javascript"; s4u.async = true;s4u.src = ("https:" == document.location.protocol ? "https://www" : "http://www") + ".stats4u.net/s4u.js";var x = document.getElementsByTagName("script")[0];x.parentNode.insertBefore(s4u, x);s4uc++;})();Stats4U - Counters, live web stats and more!
 Statistics

%d bloggers like this: